Bisnis

Pentingnya Ultimate Vision Untuk Menentukan Visi Misi Usaha

28 Maret 2019

Pada awalnya saya berharap saya bisa menulis semua ilmu yang saya dapatkan selama di MiniU ini. Makanya saya menyiapkan Hp khusus untuk merekam materi yang diberikan. Dan ternyata kapasitas memorynya nggak cukup, Teman. Hiks. Jadi postingan ini dan berikutnya merupakan materi yang masuk dalam rekaman otak saya dan saya catat poin-poinnya saja. 

Dalam kuliah perdana ini topik utama yang dibahas adalah tentang  “Membangun Visi Misi Usaha” dengan narasumber Pak Nugroho Yuwono. 

Oh ya kuliah perdana ini berlangsung mulai pukul 10 lebih (kalau nggak salah)setelah beberapa acara pembukaan dll  MiniU Kaltim Preneurs Batch 10. Cerita selengkapanya mengenai hal itu bisa dibaca disini. Kuliah berlangsung hingga pukul setengah tiga sore. Tentu dengan break ishoma (istirahat, shalat dan makan) selama 1 jam. 

Siapa itu pak Nugroho Yuwono?

Beliau merupakan owner roti gembong panglima di Samarinda. Biasa dipanggil Ustadz Nugi. Penampilannya sederhana, sekilas tak seperti pemilik bisnis dengan omset miliaran rupiah. Konon semakin kaya seseorang maka semakin sederhana penampilannya. Cara bertuturnya kalem diselingi humor yang memancing tawa peserta MiniU batch 10.

Sebelum menjadi pengusaha, beliau sempat menjadi pegawai pajak di KPP Pratama Samarinda selama kurang lebih 2 tahun. Gaji 7 juta/bulan yang diterimanya tidak mampu menahannya untuk resign dari pekerjaan yang mungkin diimpikan banyak orang. Alasannya satu : pekerjaannya tsb tidak sesuai dengan ultimate visionnya.

Apa itu ultimate vision? Nanti akan saya bahas lebih detail di bawah yaa. 

Saat ini beliau tidak hanya memegang roti gembung panglima tapi juga memiliki bisnis lain di bidang property dan kosmetik.

Dibalik kesuksesan roti gembong

Beliau memulai bisnis roti gembong dengan modal 50 juta rupiah. Dua partner bisnisnya merupakan mantan instructur di Perusahaan Tepung Bogasari dan satunya lagi mantan kapten kapal batubara.

Ide membuat roti gembong sendiri berawal dari kenalannya yang ingin dibuatkan roti khas bugis yang dikenal dengan istilah roti maros. Dan ternyata temannya tersebut menyukai roti buatannya. Maka insting bisnisnya pun muncul dengan berencana membuat dan menjual roti tersebut.

Ketika melakukan riset pasar, beliau melihat target pasarnya nanti adalah masyarakat samarinda yang notabene terdiri dari beragam suku. Maka selain  orang suku bugis yang diwakili temannya tadi, beliau juga meminta mertuanya yang merupakan orang Kutai untuk mencicipi roti yang sama. Dan mertuanya suka. Saya lupa apakah beliau juga meminta orang Banjar mencicipinya juga sebelum memutuskan bisnis roti tsb. Yang jelas beliau memulai bisnis tsb dengan pemikiran bahwa roti gembong disukai banyak orang di Samarinda dengan kata lain target pasarnya luas. 

oleh-oleh samarinda

Modal awal 50 juta beliau pakai untuk menyewa rumah di daerah Karang Asam, membuat meja dan rak serta membeli oven bekas. Pemasaran saat itu mengandalkan broadcast via BBM (Blackberry Messenger) dengan promosi gratis ongkir. Suatu ketika ia pernah menerima pesanan dari customer di daerah Mugirejo Samarinda utara. Jika diitung biaya ongkirnya mungkin bisa dikatakan rugi. Tapi karena sudah komitmen untuk memberikan servis free ongkir maka ia tetap mengantarnya. Dan nggak disangka, pembeli tsb akhirnya menjadi reseller pertama roti gembong Panglima.

Hingga saat ini roti gembong telah memiliki 12 outlet di Samarinda dan Balikpapan. Diantara semua itu, yang paling menarik adalah beliau membangun budaya kerja di perusahaannya dengan nilai-nilai islami. Diantaranya, outlet harus tutup saat adzan shalat. Bonus tahunan karyawannya dihitung dari amaliyah ibadahnya. Jadi ada semacam list ibadah apa saja yang sudah dilakukan karyawan dan dilaporkan pada manajemen. Masyaallah.

Apa Ultimate Vision beliau?

Ultimate vision itu adalah mimpi yang berkaitan dengan sesuatu yang tak terbatas yang kita tanamkan dalam diri kita. Dimana hal itu berpengaruh dalam setiap keputusan yang kita ambil.

Dalam Islam  sesuatu yang tak terbatas itu biasanya berkaitan dengan akhirat. Misalnya ultimate vision saya adalah masuk surga dari pintu sedekah. Maka segala hal yang tidak mendukung terwujudnya ultimate vision tsb akan otomatis menjadi tidak penting.

Dan ultimate vision ustadz Nugi yang membuatnya memilih resign dari pekerjaannya adalah keinginannya untuk menjadi syuhada’ (mati syahid). Mengapa hal itu sampai menjadi ultimate visionnya, mungkin hadits di bawah ini bisa memperjelasnya.Nabi Muhammad SAW bersabda,

“Orang yang mati syahid mendapatkan tujuh keistimewaan dari Allah; diampuni sejak awal kematiannya, melihat tempatnya di surga, dijauhkan dari adzab kubur, aman dari huru-hara akbar, diletakkan mahkota megah di atas kepalanya yang terbuat dari batu yakut terbaik di dunia, dikawinkan dengan tujuh puluh dua bidadari, serta diberi syafaat sebanyak 70 orang dari kerabatnya.” (HR. Tirmizi dan Ahmad).

ultimate vision

Bagian terakhir dari hadits di atas sempat disebut oleh Ustadz Nugi saat menceritakan ultimate visionnya. Asli merinding saat mendengar keinginan beliau menjadi syuhada’. Otak kerdil saya membayangkan syuhada’ di zaman sekarang tuh kayak kaum muslim yang meninggal dalam penembakan teroris di Selandia baru kemarin. Padahal dalam beberapa riwayat, makna syuhada’ bisa lebih luas lagi.

Saat kita menetapkan ultimate vision ini juga bisa dikaitkan dengan keinginan dikenang sebagai orang seperti apa setelah kita meninggal. Hanya saja ustadz menganjurkan keinginan tsb harus kongkrit dan spesifik. Misal nih setelah meninggal Kamu ingin dikenang sebagai orang baik. Itu kurang spesifik. Orang baik seperti apa? Kan luas maknanya. Kalau ingin dikenang sebagai ahli shadaqah misalnya, itu baru kongkrit.

Intinya ultimate vision ini semacam personal branding kita cuman cakupannya bukan hanya dunia tapi juga akhirat.

Baca : Pengalaman serunya jadi Ibu Kos

Pentingnya Membuat Visi Misi Usaha

Jika ultimate vision pribadi kita sudah ditentukan maka saatnya membuat visi misi yang berkaitan dengan usaha kita.

Apa itu visi misi? Mengapa itu penting dalam usaha kita?

Dalam bahasa yang paling mudah, visi adalah tujuan yang ingin dicapai dalam sebuah bisnis di masa depan. Visi ini bisa ditetapkan dalam jangka panjang seperti 100 tahun kedepan. Bisa juga dalam jangka puluhan tahun atau di bawah itu.

Contoh kongkritnya visi Perusahaan Unilever adalah :

“Untuk meraih rasa cinta dan penghargaan dari Indonesia dengan menyentuh kehidupan setiap orang Indonesia setiap harinya”

Perhatikan kata ” menyentuh kehidupan setiap orang Indonesia setiap harinya”. Kalau kita perhatikan kebutuhan kita sehari-hari mulai dari sabun, pasta gigi, pewangi sampai kecap pun produknya unilever. Jadi visi mereka untuk “menyentuh” kita setiap hari bisa dikatakan berhasil. Iya kan?

Sedangkan pengertian misi adalah cara untuk mewujudkan visi tersebut. Kalau kita ambil contoh perusahaan Unilever, salah satu misinya adalah :

” Kami membantu konsumen merasa nyaman, berpenampilan baik dan lebih menikmati hidup melalui brand dan layanan yang baik bagi mereka dan orang lain”

Sederhananya kita ambil contoh, Pewangi pakaian produk Unilever bukankah itu membantu Kita berpenampilan baik? Kalau kita ke kantor dengan baju apek dan kusut kan kurang menarik jadinya. Betul nggak sih?

Selain visi misi ada pembahasan lain yang tak kalah penting. Yakni menentukan core value dalam bisnis. Yaitu semacam budaya yang ingin kita bangun dan jaga dalam usaha yang kita jalankan.

Misal yang saya singgung di atas tadi tentang core value Roti gembong panglima. Dimana karyawan diharuskan shalat wajib dan lain-lain.

Keluhan Tidak Memiliki Modal Dalam Berbisnis

Ketika Ustadz Nugi bertanya kendala yang sering dihadapi pengusaha. Salah satu jawaban yang dilontarkan para peserta adalah tidak/kurang modal. Mendengar hal itu, beliau meminta para peserta untuk mengambil alat tulis dan bersiap mencatat. Batin saya, mungkin beliu mau tanya berapa modal yang Kami butuhkan.

” Saya akan bertanya dan saya minta kalian menjawab dengan angka yang jelas” Kata Ustadz Nugi. Sampai disini tebakan saya masih mengarah benar.

” Misalnya ada orang yang tertarik dengan jari tangan kiri Anda, Anda akan menjualnya berapa?”

Mak glek!!!

Para peserta senyam-senyum saling berpandangan. Sebagian ada yang langsung meletakkan alat tulisnya karena tak sanggup menjawab. Sebagian lagi tetap memegang alat tulisnya meski bingung mau menulis apa. Saya sendiri meletakkan bulpen sambil spontan “mengamankan” tangan saya. Ngeri euy! Bayangin tangan tergores pisau sedikit saja sakitnya minta maaf. Apalagi jika harus dipotong dan dijual ke orang lagi. Aish naudzubillahi min dzalik.

Kuis yang diberikan ustadz Nugi ini masih berlanjut dengan bagian tubuh lain, meski saya yakin tidak ada yang sanggup menjawabnya.

Baca : Mebel Jepara Vs Mebel Pasuruan, Mana yang Lebih Bagus?

Sebenarnya beliau hanya ingin menegaskan, bahwa kita sebagai manusia ini kurang bersyukur. Kita selalu mengeluh. Mau usaha saja sederet alasan untuk menundanya. Akh nggak punya ini kurang ini itu. Padahal apa yang ada diri kita adalah modal utama kita berikhtiar.

Kita baru menyadari hal itu, ketika kita hampir kehilangan modal utama tsb. Kita baru tersadar Allah memberi Kita modal yang nilainya tak terbatas yaitu jasmani dan rohani kita sendiri. Maukah kita termasuk golongan manusia yang kurang bersyukur?

Astaghfirullahal ‘adzim

Kuliah kurang lebih selama 3 jam bersama Ustadz Nugi ini sangat menarik. Setiap hal yang disampaikannya sangat bermakna. Beliau juga menyampaikannya secara sistematis jadi mudah untuk dicatat. Meskipun demikian, tidak semua materi yang disampaikan kemarin saya tulis dalam postingan ini. Ada sebagian yang tidak saya ingat, ada juga materi yang saya ingat tapi pemahaman saya kurang mengenai hal tsb. Jadi saya tidak bisa menjelaskan melalui tulisan disini.

Gimana keren apa keren banget materi di MiniU Kaltim Preneurs ini, Teman? So jangan ragukan bagikan tulisan ini di Media Sosialmu yaa. Tinggal klik tombol media sosial di samping/bawah tulisan ini aja kok. 

Semoga bermanfaat 😉

Terima kasih sudah mampir. Monggo share komentar Anda disini, Teman!