Gaya Hidup

Mebel Jati Jepara Vs Pasuruan, Mana Yang Lebih Bagus?

22 January 2018

Selama 7 tahun lebih berkecimpung pada usaha penjualan mebel jati, sekitar 80% pengunjung selalu mengajukan pertanyaan ini saat masuk ke toko kami.

“Mba, ini jati jepara atau Pasuruan?”

Meski agak bingung dengan pertannyaanya, saya mengasumsikan bahwa yang ditanyakan adalah “pembuatan mebel jati ini dari Jepara atau Pasuruan?”.

Maka saya biasanya menjawab, “Jepara Bu/pak”, karena faktanya kami mengambil barang dari daerah tersebut.

Suatu ketika saya iseng balik nanya ketika ada pertanyaan semacam itu.

“Maksud bapak, pembuatannya atau asal kayu jatinya yang dari jepara atau pasuruan?”

Dan pengunjung tersebut menjawab “asal kayu jatinya, mba”

Entah ini mewakili maksud dari mayoritas pengunjung yang datang dengan pertanyaan yang sama atau tidak. Tapi jika benar demikian ada yang harus diluruskan.

Bahwa mebel jepara atau pasuruan adalah istilah yang merujuk pada pembuatan mebel atau furniture yang berlokasi di kabupaten jepara jawa Tengah atau pasuruan Jawa Timur.

Adapun asal kayu jati yang digunakan bisa berasal dari daerah mana saja penghasil kayu jati misal Bojonegoro, Blora, Rembang dan lain-lain yang dikirim ke dua daerah industri mebel jati tersebut.

Karena kalau mengandalkan kayu jati dari daerahnya sendiri (Jepara dan Pasuruan) jelas tidak mencukupi. Mengingat tingginya permintaan pasar akan mebel jati dari kedua daerah tersebut.

Mebel jati jepara vs mebel jati pasuruan
(Sumber gambar: mutiadiwan.com)

Lalu lebih bagus mana, kualitas mebel jati diantara kedua daerah tersebut?
Dari seringnya mengobrol dengan pengunjung yang datang ke toko mengenai cara pandang mereka terhadap mebel jati. Dapat disimpulkan bahwa, pada umumnya masyarakat menilai mebel jati jepara lebih bagus dari mebel jati pasuruan.

Bahkan ada semacam anggapan, kalau mebel jepara sudah pasti terjamin kualitasnya. Sebaliknya mebel pasuruan dianggap memiliki kualitas yang rendah.

Tapi benarkah faktanya demikian?

Sekitar tahun 2011, saya dan suami (kami) melakukan perjalanan ke beberapa daerah mulai dari Bojonegoro, Blora, dan Jepara.

Di kabupaten bojonegoro yang memiliki sentra industri mebel, memiliki keunggulan pada kualitas kayu jatinya. Kayu yang digunakan rata-rata kayu jati tua.

Variasi produk yang dihasilkan pun juga tidak kalah dengan mebel jepara. Karena untuk mereka juga mendatangkan tukang ukir dari Jepara.

Tapi kekurangannya, harga jual mebel dari daerah tersebut hanya cocok untuk pembeli eceran. Bukan pembeli grosir yang akan dijual lagi seperti kami.

Sedangkan di Blora, kami hanya bertemu dengan salah satu pengusaha mebel di kota tersebut. Jadi tidak bisa diambil kesimpulan secara umum, bagaimana geliat industri mebel di daerah tersebut.

Jika dari berbincang dan melihat sendiri usaha mebel kenalan kami tersebut, beliau masih mengandalkan mebel produksi Jepara. Beberapa pesanan yang umum saja seperti kursi sekolah, meja kantor dan lain-lain saja yang diproduksi sendiri.

Sedangkan beberapa produk terutama yang berukir khas jepara seperti kursi tamu, tempat tidur dan lain-lain tetap mengambil produk mentahnya dari Jepara.

Dan akhirnya kami ke Jepara.

Selama 1 (satu bulan) lebih kami disana, kami melihat bahwa industri mebel di kota tersebut benar-benar luar biasa. Hampir seluruh daerah terjun dalam industri ini.

Sepertinya ada semacam pembagian daerah, misalnya daerah A khusus produksi tempat tidur, daerah B produksi lemari, dan seterusnya.

Masyarakatnya pun menggeluti profesi di bidang tersebut. Mulai dari pengrajin, pengepul, tukang amplas, tukang finishing, tukang menata barang di kontainer, dan lain-lain.

Dan selama tinggal disana, kami mengetahui bahwa mereka membuat produk dengan berbagai kualitas yang berbeda. Istilah “ada harga, ada rupa” itu berlaku disana.

Artinya, produk dengan model yang sama bisa memiliki harga yang jauh berbeda karena perbedaan tingkat kualitasnya. Hal itu tergantung dari permintaan konsumen dan daerah mana yang memesan produk tersebut.

Jadi inilah bukti pertama, bahwa mebel jepara tidak selalu berarti memiliki kualitas bagus. Bagus tidaknya kualitas produk tersebut ditentukan dengan budget yang kita keluarkan untuk memesan produk yang kita inginkan.

Meskipun tidak selamanya barang mahal itu pasti bagus. Betul tidak?

Selanjutnya pada tahun 2012, kami pun berkesempatan ke sentra industri mebel di Pasuruan. Kebetulan kami juga punya kenalan seorang pengusaha mebel di daerah tersebut.

mebel jati jepara vs mebel jati pasuruan
Mebel jati yang masih mentah atau belum di finishing (Sumber gambar : Dokumen pribadi)

Begitu memasuki workshopnya, kami jatuh cinta pada lemari pakaian yang belum difinishing. Kayu jati yang digunakan sangat tua yang terlihat dengan dominasi warna hitam pada serat dan kayunya.

Selama kami memesan produk di Jepara, belum pernah mendapatkan produk dengan kualitas kayu seperti itu. Hasil finishing produknya juga tidak terlalu mengecewakan saat dikirim ke samarinda.

Dan yang lebih penting lagi, harganya terjangkau

Dan inilah bukti kedua, bahwa tidak semuanya produk mebel pasuruan itu kualitasnya pasti rendah.

Kesimpulan :

Baik produk mebel jepara maupun mebel Pasuruan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Stigma yang melekat pada rendahnya kualitas mebel Pasuruan juga harus dirubah.

Sebagai konsumen kita juga harus pandai-pandai memilih mana produk yang berkualitas dan mana yang tidak. Jangan sampai terjebak pandangan umum tentang kebenaran kualitas suatu produk tanpa mengamati sendiri atau mencari tahu dari sumber yang bisa dipercaya.

Bagaimana pendapat Anda tentang tulisan diatas, tinggalkan komentar ya untuk berdiskusi lebih lanjut tentang topik diatas.

Semoga  bermanfaat ya Temans J

Hai...Thanks ya sudah berkunjung, jika berkenan silahkan tinggalkan komentar disini Temans ;-)