Rupa-rupa

Belajar Ilmu Parenting dari Ibu

Almarhum Ibu saat berada di Pujasera yang saya kelola di Samarinda (2012). Doc. mutiadiwan.com

Almarhum Ibu saya cuma lulusan SD dan MI (Madrasah Ibtidaiyah) sekaligus. Awalnya beliau hanya sekolah SD, tapi karena keinginan yang besar untuk mempelajari agama maka beliau juga sekolah MI. Waktunya pun dibagi, kalo pagi masuk SD dan kalo sore masuk MI.

Semangat beliau cukup tinggi dalam belajar, tapi sayangnya setelah lulus SD/MI beliau ingin melanjutkan ke Sekolah Mualimat (setingkat SMP) tidak diperbolehkan oleh kakek/neneknya (kebetulan beliau tinggal dengan kakek-neneknya). Alasannya klasik “Anak perempuan gak usah sekolah tinggi-tinggi. Tokh nanti akhirnya cuman pegang ulek-ulek (alias masak di dapur) :).

Beliau mungkin tidak kenal istilah Ilmu Parenting. Tapi pada prakteknya, kesabarannya luar biasa dalam mendidik anak-anaknya. Jangankan memukul, beliau bahkan tidak pernah mencubit apalagi membentak. Padahal anaknya lima cowok semua, dan saya satu-satunya yang cewek.

Selain itu, beliau selalu berpesan pada saya, untuk tidak menyebut “anak nakal” saat menghadapi perilaku anak yang kadang memusingkan dan gak mau nurut. Katanya, “Tidak ada anak yang nakal, yang nakal itu orang di pe**c***n”

Dan ternyata, pesan ibu itu dibenarkan dengan teori parenting. Bahwa kita sebagai orang tua, dilarang menjudge anak kita dengan sebutan “kamu memang nakal” atau “kamu memang bodoh”. Bahkan menyebut anak kita dengan  “Oh dia memang pemalu” saja tidak boleh.  Karena anak-anak akan tumbuh sesuai dengan label yang kita berikan.

Ada kisah teladan yang bagus yang bisa kita tiru dari Ibunda Ulama’ besar Imam Syafi’i. Ketika Imam Syafi’i masih kecil dan Ibundanya jengkel dengan perilakunya. Bukan memukul atau membentak, Ibundanya justru mengelus-elus kepala Putranya sambil bilang ” Semoga Kamu nanti jadi penghafal Qur’an ya Naaak”.

Dan itu menjadi kenyataan. Imam Syafi’i bukan hanya menjadi penghafal Al-Quran (Hafidz) tapi juga menjadi Ulama’ besar yang menjadi panutan umat Muslim seluruh dunia.

Pada intinya, perkataan orang tua terutama Ibu adalah doa. Maka kita usahakan berkata yang positif pada anak kita. Meski pada saat tertentu, ketika sedang dalam kondisi emosi dan stress kita mungkin kelepasan bicara sesuatu yang negatif. Kita Istighfari saja dan terus mengingatkan diri bahwa itu tidak benar. Dan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi.

Sebenarnya ini nasehat untuk diri saya sendiri yang kadang terbawa emosi menghadapi anak saya. Padahal saya baru punya anak satu. Apa kabar yang punya anak dua, tiga dst 😄😄😄.

Sharing yuk pengalaman Anda semua dalam menghadapi anak-anak?. Entah anak sendiri, keponakan, atau anak tetangga juga boleh  🙂

4 thoughts on “Belajar Ilmu Parenting dari Ibu”

  1. Ada pepatah mengatakan ..”seorang wanita tak akan dewasa sebelum dia menikah., seorang pria tak akan dewasa sebelum ibunya meninggal”.., dari sini kita tahu peranan ibu sangatlah penting sebagai orang tua., karena bagi seorang anak laki-laki seperti saya., peran ibu selalu melengkapi kekurangan anaknya.,

    meskipun kita sudah dewasa … tapi dimata ibu, kita masih seperti anak kecil., kasih sayang ibu jauh lebih besar darpiada ayah., itulah sebabnya surga berada dibawah telapak kaki ibu., melahirkan seorang bayi itu butuh perjuangan., dan sangat celaka bagi anak yang mendurhakai orang tuanya, terutama ibu,.

  2. Ibu, walaupun engkau tidak bersekolah tinggi, namun engkau tau betul cara buat ngedidik anak

Hai...Tinggalkan komentar disini Temans ;-)