3 Alasan Bunga Bank Diharamkan Menurut Adiwarman A. Karim

Dalam sistem Perbankan konvensional (non syariah) kita mengenal sistem bunga sebagai mekanisme bank dalam memperoleh return (keuntungan). Dalam kajian hukum ekonomi Islam, pendapat tentang hukum bunga bank sendiri terbagi menjadi 2 (dua) yaitu ada yang membolehkan dan ada yang mengharamkan bunga bank.

Diantara pihak yang mengharamkan tsb adalah Ir. Adiwarman A. Karim, S.E, M.B.A, M.A.E.P. Beliau Adalah Seorang Pengamat, Praktisi dan Penulis beberapa buku tentang Ekonomi dan Perbankan Islam. Beliau juga menjabat sebagai anggota Dewan Syariah Nasional MUI dan Dewan Pengawas Syariah beberapa lembaga keuangan seperti HSBC Syariah, Bank Danamon Syariah, dll.

Dalam bukunya “Bank Islam: Analis Fiqh dan Keuangan” dijelaskan bahwa bunga bank adalah riba. Dan riba hukumnya jelas haram sesuai dengan firman Allah dibawah ini :

“ Dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” QS. Al Baqarah 275

Riba adalah tambahan yang disyaratkan dalam transaksi bisnis tanpa adanya padanan (iwad) yang dibenarkan oleh syara’ atas penambahan tsb. (Imam Sarakhsi dalam Al-Mabsut, Ju XII, hal 109).

Adapun sebab hukum (‘Illat ) bunga bank dianggap riba adalah karena 3 hal berikut ini:

  1. Konsep bunga bank dianggap melanggar prinsip al-kharaj bi al-dhaman (adanya hasil usaha muncul bersama biaya) dan prinsip al-ghunmu bi al ghurmi (Untung muncul bersama resiko).

Konsep bunga bank justru didasarkan pada kewajiban menanggung beban hanya karena berjalannya waktu. Itu sebabnya diharamkan.

Praktek tsb dapat ditemui pada pembayaran bunga deposito, tabungan, giro dan kredit. Contoh yang paling mudah adalah penerapan bunga deposito. Misal si A akan mendepositokan uangnya sebesar 100 juta pada Bank D. Pada awal transaksi, pihak Bank D menjanjikan bahwa si A akan mendapatkan bunga deposito sebesar 6% pertahun. Atau misalnya setara Rp 500 ribu perbulan.

Bagian yang dianggap melanggar ketentuan ekonomi syariah diatas adalah Si A akan tetap mendapatkan keuntungan sebesar 6% pertahun tanpa menanggung resiko sedikitpun atas uang yang didepositokannya.

  1. Mengandung unsur kedzaliman

Masih berkaitan dengan contoh pada poin pertama diatas. Bank akan mengelola uang milik nasabah A dengan cara memberikan pinjaman pada pihak C. Umumnya bank sebagai kreditur akan menetapkan di awal transaksi pembayaran bunga yang besarnya tetap setiap bulannya. Padahal nasabah C belum pasti mendapatkan keuntungan sesuai yang diharapkan.

Dalam bisnis selalu ada kemungkinan rugi, impas dan untung yang besarnya tidak dapat ditentukan di awal. Maka memastikan sesuatu yang tidak pasti dan dilua wewenang manusia adalah salah satu bentuk kezaliman. Hal itu sejalan dengan firman Allah dalam  QS. Luqman:34.

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

  1. Pelanggaran kaidah “Kullu Qadin jarra Manfa’atan fahuwa Riba” (Mengambil manfaat atas suatu pinjaman adalah riba).

Hal tsb dikarenakan memberi pinjaman adalah tansaksi kebaikan (tabarru’) dan meminta kompensasi adalah transaksi bisnis (tijarah). Transaksi yang semula diniatkan sebagai tansaksi kebaikan tidak boleh diubah sebagai transaksi bisnis.

Contoh transaksi perbankan yang melanggar ketentuan diatas adalah pengenaan bunga pada transaksi kartu kredit yang tidak dibayar penuh tagihannya pada saat jatuh tempo.

Kesimpulan :

Bunga Bank dianggap riba oleh Adiwarman A. Karim karena 3 hal ; Pertama,  Konsep bunga bank dianggap melanggar prinsip al-kharaj bi al-dhaman (adanya hasil usaha muncul bersama biaya) dan prinsip al-ghunmu bi al ghurmi (Untung muncul bersama resiko). Kedua, mengandung unsur kedzaliman. Ketiga, Pelanggaran kaidah “Kullu Qadin jarra Manfa’atan fahuwa Riba” (Mengambil manfaat atas suatu pinjaman adalah riba).

Semoga tulisan ini bemanfaat untuk Anda 🙂

 

About Mutia Faridah 23 Articles
Hai Saya Mutia Faridah... Saya Ibu Rumah Tangga yang sedang belajar tentang bisnis, keuangan dan investasi. Untuk berkenalan dan menjalin kerjasama dengan saya, Anda bisa menghubungi email saya crafeltsamarinda@gmail.com.

5 Komentar

  1. Kalo membungakan uang sudah jelas haram termasuk bunga bank. Saat ini juga ternyata dari sudut pandang islam memiliki/menyimpan uang di atm itu haram.

Tinggalkan Balasan